Metodologi Penafsiran Hermeneutika = Liberalisasi Al-Qur’an

Oleh: Asep Irmansyah*)

“Islam tak mungkin lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang akan bertanggungjawab?”. (KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah).

Apa yang di khawatirkan oleh KH. Ahmad Dahlan hampir mendekati kenyataan. Di Indonesia, Islam sebagai ideologi semakin diabaikan dan dikompromikan. Islam sering di pandang sebagai ancaman potensial bagi Barat, atau Islam sebagai isu politik potensial untuk meraih kekuasaan. Maka berbagai daya dan upaya dilakukan untuk menjinakkan dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari tiga cara pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, yaitu melalui program kristenisasi, imperialisme modern dan orientalisme.

Proses liberalisasi sebenarnya terjadi pada berbagai bidang kehidupan, baik bidang politik, ekonomi, sosial, informasi, moral, dan sebagainya, termasuk bidang agama. Lihatlah, sistematis proyek penghancuran yang sudah dan sedang diusung kaum liberal; Menghancurkan gerakan Islam yang ingin menerapkan syariat Islam di Indonesia, menolak piagam Jakarta, menolak formalisasi syariat Islam dan menuntut pembatalan perda-perda syariat. Tentu saja, paham syirik modern ini harus ditanggulangi, agar jangan sampai 10 tahun lagi paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khatib atau kiai yang mengajarkan paham persamaan agama kepada anak didik dan masyarakat.

Secara umum, ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi, yaitu (1) liberalisasi bidang aqidah dengan penyebaran paham Pluralisme Agama, (2) liberalisasi bidang syariah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Quran.

Metode Penafsiran Hermeneutika

Ketika penulis kuliah di IAIN SGD Bandung (sekarang UIN), selama dua semester dijejali tentang Metode Penafsiran Hermeneutik. Pada awal perkuliahan, memang masih terfokus pada beberapa istilah tentang hermeneutik, sejarahnya, tokoh-tokohnya. Di pertengahan semester, penulis agak tercengang juga ketika masuk materi yang lebih substantif. Bahwa hermeneutik adalah sebuah metode kekinian yang lebih modern dalam upaya menafsirkan al-Qur’an, dan metode penafsiran yang selama ini digunakan dan merupakan warisan para ulama terdahulu seperti ilmu tafsir, ulumul Qur’an, adalah metode penafsiran yang usang dan tidak sesuai lagi dengan semangat zaman.

Proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Qur’an. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang bebas dari kesalahan. Proyek itu ditempuh dengan cara Liberalisasi Al-Qur’an dengan mencoba menerapkan Metode Penafsiran Hermeneutika.

Hermeneutika (Inggris: Hermeneutic) merupakan sebuah istilah yang diambil dari bahasa Yunani, yakni hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermenia, yang berarti interpretasi (penafsiran).

The New Encyclopedia Britanica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.(Majalah Islamia, Jakarta, 2004, vol 1 hlm 13).

Para teolog dari kalangan Yahudi dan Kristen mempertanyakan, apakah Bible itu kalam Tuhan atau kalam manusia? Ini karena banyaknya versi Bible dengan pengarang yang berbeda. Ketika Kristen mengadopsi hermeneutika maka terjadi perpecahan antara yang menganut penafsiran literal dan penganut alegoris/kiasan. Pihak Kristen Protestan memakai literal dengan semboyan Sola Scriptura, bahwa Bible itu sendiri telah merupakan petunjuk yang cukup jelas untuk memahami Tuhan. Sedang Katholik Roma melalui Konsili Trent (1545) menolak prinsip Protestan itu dan mendukung teori dua sumber keimanan dan teologi Kristen yakni: Bible dan Tradisi Kristen.(Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, 2005:165).

Persoalannya sekarang, ketika hermeneutika dipergunakan untuk menafsirkan al-Qur’an, menjadi lain. Sebab, al-Qur’an dipahami secara bulat oleh umat Islam sebagai kalam Ilahi. Karena kalam Ilahi, terdapat hal-hal yang bisa dipahami dan dimengerti, ada juga hal-hal yang memang belum bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia. Apabila menemukan hal tersebut, sikap umat Islam adalah mengimaninya.

Dr. Ugi Suharto dosen ISTAC IIUM Kuala Lumpur dalam salah satu artikelnya menjelaskan bagaimana bahayanya Metode Hermeneutika ketika dipakai untuk menafsirkan al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang muhkamat, ada ushul ajaran Islam, hal-hal yang bersifat tsawabit, semua ayat-ayatnya adalah qoth’iy al-tsubut al-wurud. Dan bagian-bagiannya ada yang menunjukan qoth’iy al-dilalah, ada perkara-perkara yang termasuk dalam al-ma’lum min al-din bi al-dhoruroh. Ada sesuatu yang ‘ijma mengenai al-Qur’an, dan ada yang difahami sebagai al-Qur’an yang disampaikan dengan jalan mutawatir, yang semuanya itu dapat difahami dan dimengerti oleh kaum Muslimin dengan derajat yakin bahwa itu adalah ajaran al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah. Apabila filasafat hermeneutika digunakan kepada al-Qur’an, maka yang muhkamat akan menjadi mutasyabihat, yang ushul menjadi furu’, yang tsawabit menjadi mutaghoyyarot, yang qoth’iy menjadi dhonniy. Alasannya sederhana saja, yaitu filsafat hermeneutika tidak membuat pengecualian terhadap hal-hal yang axiomatic di atas.(Islamia, vol 1, 2004, halaman 52).

Konsekuensi logis yang akan terjadi, sebagai akibat dari aplikasi metode hermeneutika al-Qur’an adalah liberalisasi al-Qur’an itu sendiri. Akibatnya, muncul pernyataan-pernyataan yang nyeleneh tentang al-Qur’an, seperti yang dikatakan Sumanto Al-Qurtubhy, bahwa wahyu sebetulnya ada dua: “wahyu verbal” (“wahyu eksplisit” dalam bentuk redaksional bikinan Muhammad) dan “wahyu non verbal” (“wahyu implisit” berupa konteks sosial  waktu itu).(Adian Husaini, Liberalisasi Islam di Indonesia Antara Fakta & Data, 2006:39).

Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana salah kaprahnya metode penafsiran al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutika seperti yang dilakukan Fazlur Rahman ketika menafsirkan ayat tentang hukuman bagi pencuri yang tersurat dalam al-Qur’an dengan hadd potongan tangan.

“Laki-laki maupun perempuan yang mencuri, ptonglah tangan keduanya(sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”. (QS. 5:38).

Menurut Fazlur Rahman, kata faqtha’u aidiyahuma (potonglah tangan keduanya) sebagai bentuk perintah untuk menghalangi tangan-tangan pencuri melalui perbaikan ekonomi. Dengan demikian, yang menjadi ideal moral dalam kasus ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. Lebih lanjut Rahman mengatakan, sangat mengerikan (potong tangan), ia merupakan tradisi yang lahir di Arab Saudi sebelum adanya Islam. Jadi potong tangan bukan hukum Islam.

Interpretasi tersebut menegasikan hukum tersurat dan menyalahi hadits, para ulama tafsir. Karena kata aidiyahuma dalam ayat tersebut adalah hakiki bukanlah majazi (kiasan) yang bisa diganti dengan makna lain. Ibn Jarir al-Thabary dalam Tafsir Jami’ul Bayan, meriwayatkan dari Abdul Mukmin dari Najdah al-Hanafi, beliau bertanya kepada Ibn Abbas tentang ayat hukum potong tangan ini, ‘Apakah ayat itu bersifat umum atau khusus? Ia menjawab bahwa ayat tersebut bersifat umum. Dengan kata lain ayat tersebut berlaku bukan hanya untuk masyarakat Arab abad ke-7 Masehi saja.

Ibn katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim menjelaskan, walaupun memang hukum potong tangan telah ada sebelum Islam datang, tetapi hal ini dipertahankan pada masa Islam dengan menambah beberapa pertimbangan dan syarat yang ketat, termasuk ukuran minimal harta curian dan motif pencurian tersebut. Jadi dalam hukum Islam tidak semua pencuri di potong tangan, apalagi kalau mencuri untuk sekedar mempertahankan hidup.

Itu salah satu contoh bagaimana sebenarnya ketika hermeneutika digunakan sebagai metode untuk menafsirkan al-Qur’an. Jauh dari maksud yang sebenarnya dan lebih mengedepankan logika daripada riwayat-riwayat para sahabat dan para ulama tafsir.

Proyek liberalisasi sampai kapan pun akan tetap berjalan, tentu saja kita tidak akan tinggal diam melihat al-Qur’an menjadi sasaran liberalisasi dengan melakukan penafsiran melalui metode hermeneutika. Ketika kita tinggal diam, maka satu persatu tidak akan ada yang tersisa dari ajaran Islam.

*) Penulis adalah alumnus UIN SGD Bandung dan Pernah nyantri di Pesantren Persis 19 Garut

Tags: , ,

2 Responses

  1. Abu Jibril
    February 10, 2011 8:28 am #

    Tafsir Hermeneutik, awal mula dikembangkan oleh Hasan Hanapi (seorang pembaharu Islam) telah membawa “umat Islam” ke arah model tafsir kekinian, sehingga melahirkan para peminat tafsir (Konsumen wahyu)lebih leluasa untuk menafsirkan baik muhkam ataupun mutabih, berbeda dengan tradisi tafsir yang dikembang kan para mufasir terdahulu dengan memperketat “aturan main-nya” sehingga tidak melahirkan para mufasir-mufasir “Liberal” (menurut Penulis). terlepas dari tafsir tradisional ataupun tafsir kekinian, Saya Sepakat dengan nilai-nilai yang hakiki yang terkandung dlm al-Qur’an itu tetap “apa adanya” toh manusia diciptakan untuk berpikir, menyelami dan merealisasikan apa yang terkandung didalam nilai-nilai al-Qur’an.

    • saepuloh
      June 19, 2011 7:23 am #

      Di dalam Al-Qur’an itu sendiri terdapat hukum-hukum yang mengatur kehidupan, baik yang memerlukan penafsiran atau tidak. Terlepas dari metodologi penafsiran itu sendiri, akan tetapi kebanyakan manusia sekarang sudah berbeda, mereka dihadapakan pada kondisi real yang mereka hadapi dan lakukan yang merupakan pilih terakhir yang praktis pula.
      tentunya di perlukan reaktualisasi penafsiran Al-Qur’an dengan berpijak pada kaidah yang benar tanpa menutup mata akan permasalahan yang sedang dihadapi banyak orang